Pernikahan Zikry dan Seni, Rebel Atau Cuma Main-Main?

Zikry Bersama Karyanya
Sumber Foto: Iman Hediana
Sebuah pameran seni dengan tema nyeleneh hadir di Galeri Seni Popo Iskandar (GSPI). Agenda ini awalnya diumumkan di Instagram dengan judul “Terlanjur Cinta: Sebuah Pernikahan antara Zikry dan Seni”. Akad nikah dilakukan Sabtu 2 Februari 2018 pukul 16.00 WIB.

Pada hari pelaksanaan, acara dibuka iring-iringan pengantin pria dari Kampus Universitas Pendidikan (UPI) Bandung ke GSPI yang jaraknya kurang dari sepelemparan batu, tak ketinggalan musik mengalun.

Iring-iringan itu disambut performance art Agung Jek yang berkolaborasi dengan pencak silat. Setelah itu, Zikry Radiansyah yang merupakan pengantin pria, tiba di meja penghulu yang disiapkan di depan galeri. Di sana terjadi prosesi ijab kabul. Penghulunya Mufti Prianka alias Amenkcoy.


Singkat kata, Zikry dinyatakan sah menikah. Dengan siapa? Dengan seni. Zikry menjadikan puluhan karya seni rupanya sebagai mahar yang kemudian dipamerkan di GSPI hingga 10 Februari 2018.

Zikry mengatakan, pernikahannya dengan seni yang dilanjutkan dengan pameran tunggal merupakan bentuk kecintaan dan tanggung jawabnya sebagai sarjana seni yang berniat jadi seniman. Sebelum lulus kuliah, ia mengaku pernah berikrar akan membuat pameran tunggal. Februari ini ia akan menjalani prosesi wisuda. Janji itu terpenuhi.

Lewat pernikahannya dengan seni, ia berjanji akan berkomitmen dan tidak akan meninggalkan seni, apalagi selingkuh dengan profesi lain. “Senang bisa pameran seperti ini, jadi ada tanggung jawab lain, ingin terus intens berkarya bagaimanapun kondisinya,” kata pelukis kelahiran Bandung 1992 ini.

Zikry memamerkan karya yang dibuatnya pada awal-awal memasuki jurusan seni rupa pada 2013 sampai ia mengkhatamkan kuliahnya itu pada 2018. Sehingga pameran ini seperti menyuguhkan kronologis kekaryaan, karya pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Begitu juga dengan kualitas karyanya.

Zikry memenuhi dinding galeri GSPI dengan karya seni rupa yang penuh warna dan beragam objek. Ia memajang gambar-gambar dengan medium kertas dan pensil beragam ukuran, yang terkecil berukuran bungkus rokok.

Pada gambar-gambar di atas kertas, Zikry lebih banyak menampilkan dunia anak-anak dan lingkungannya. Anak digambar secara sangat sederhana dengan pensil, tubuh anak dibuat bulatan lonjong, dikasih garis-garis sebagai tangan dan kaki.

Gambar-gambar dunia anak Zikry seperti buatan anak-anak SD yang menggambar dirinya dengan teman-temannya, orang tuanya, anjingnya, bermain ayunan, menonton televisi, bermain petak umpet dan seterusnya.

Tapi ada juga gambar anak yang tampak ganjil dan sadis, misalnya seorang anak yang menggusur temannya yang terkapar di tanah depan ayunan, dua anak yang tampak berkelahi dan berdarah-darah, sampai anak bermain ayunan di lampu jalan.

Zikry sepertinya membagi dunia anak yang ceria dan penuh imajinasi, serta dunia yang penuh sadisme atau kekerasan.

Selain menampilkan dunia anak yang ambigu itu, Zikry juga menyajikan beberapa lukisan di atas kanvas berukuran lebih dari satu meter. Lukisan tersebut sangat berwarna dengan objek tidak jelas dan acak.

Lalu, ada banyak instalasi yang ditempel di dinding dengan bahan yang dekat dengan kehidupan manusia seperti korek gas, kabel usb, gagang pintu hingga puntung rokok. Benda-benda tersebut ditempel dalam bingkai yang beraneka warna.

Menurut Zikry, warna-warni lukisannya menunjukkan kepercayadiriannya dalam berseni rupa. Sebelum memasuki pendidikan seni rupa UPI, ia mengenyam pendidikan di pesantren. Di awal masuk kuliah, ia mengaku tidak percaya diri bikin karya dan memamerkan hasilnya ke orang lain. Tapi ia terus bergaul dengan teman-teman seni rupanya, dan terus bermain dengan karya.

Unsur permainan menjadi salah satu dasar Zikry berproses. Ini terlihat dalam drawing tentang anak-anak, permainan warna, pohon, binatang, hingga makhluk mirip robot seperti pada film kartun. Ia juga menampilkan instalasi, sulaman berbagai kain yang menyerupai lukisan, dan lain-lain.

Acara Artist Talk Pameran "Terlanjur Cinta" Zikry
Sumber Foto: Iman Herdiana
“Cenderung ingin main saja, bukan rebel,” katanya, pada sesi artist talk, Sabtu 3 Februari 2018. Artist talk ini kebanyakan dihadiri teman-teman Zikry. Di sesi ini, Zikry harus mempertanggungjawabkan pamerannya, termasuk menjawab dugaan adanya unsur rebel dalam karyanya.

Baginya, seni sebagai wahana permainan yang menyenangkan di saat wacana seni rupa sudah sangat maju dan rumit. Ia tidak ingin terjebak pada seni yang memusingkan. Seni harus mengalir dan sederhana seperti puntung rokok yang menjadi bahan instalasinya. Bahwa puntung rokok pun bisa menjadi media seni.  

Namun Rudi St Darma atau akrab disapa Uday yang hadir dalam artist talk itu menyanggah, konsep rebel dalam seni rupa bukan berarti menghadirkan karya dengan ide-ide ekstrem, melainkan membangun karya dengan cara di luar tata krama seni rupa itu sendiri.

Misalnya, kata pendiri Rumah Proses ini, melukis orang di luar kelaziman atau standar. Karya-karya rebel biasanya dibikin oleh seniman keras kepala.

Uday juga mempertanyakan konsep pameran di mana Zikry menggambil tema nikah dengan seni. Menurutnya, konsep nikah tidaklah main-main, bahkan sakral. Namun dalam pelaksanaannya, performance art Zikry kurang mendalam. Ini menunjukkan jika Zikry kurang melakukan riset atau survei terhadap pernikahan.

Di sisi lain, Zikry dinilai memaksakan unsur performance art dan pameran. Sedangkan korelasi antara performance dan karya sulit ditemukan benang merahnya. Karya-karya yang dipamerkan tampak kurang terkurasi dengan baik.

“Uye (sapaan Zikry) sebagai orang yang berani bermain. Cuma untuk memperkecil resiko dari bermain yang harus diperdalam. Yang harus dipertimbangkan kontinuitasnya habis ini jangan sampai talak,” kata Uday.

Baca juga artikel: "Amanat Seni Popo Iskandar di GSPI"

Tetapi Zikry atawa Uye punya alasan yang “keras kepala” dalam mengusung tema nikah dengan seni untuk performance art dan pameran tunggalnya. “Nikah karena cinta,” ujarnya. Dalam akad nikahnya, ia berjanji setia pada seni. Malah rencanya, masih di bulan Februari ini ia akan kembali berpameran sebagai bulan madunya. (Penulis: Iman Herdiana)

Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment