Seniman Jabar Deklarasi Gerakan Jabar Tolak Denny JA

Foto Deklarasi
Sumber Foto: Iman Herdiana
Jagat sastra nasional sedang gaduh. Penyebabnya, ahli survei Denny JA tengah menggalang “Gerakan Puisi Esai Nasional”. Gerakan ini mengajak para penulis untuk membuat puisi esai. Diduga, ada permainan uang di balik ajakan ini.

Reaksi penolakan terhadap gerakan Denny JA muncul di mana-mana. Di Bandung, penolakan terhadap Denny JA digagas Majelis Sastra Bandung (MSB). Penolakan dideklarasikan di sela ulang tahun MSB yang ke-9 di Studio Jeihan, Bandung, Minggu 21 Januari 2018.

Deklarasi dihadiri perwakilan komunitas sastra dari berbagai daerah di Jabar, antara lain Tasikmalaya, Cianjur, Sumedang, dan Bandung. Dipimpin Rois Amr MSB, Matdon, mereka berdiri di tengah acara ulang tahun yang dihadiri sekitar 75 orang.

Mereka membacakan Deklarasi Penyair Jawa Barat Atas Gerakan Puisi Esai Denny Ja. Kami penyair Jawa Barat dengan ini menyampaikan:

1 Menolak dengan tegas gerakan puisi esai Denny JA yang dengan kekuasaannya, telah membeli sejarah sastra Indonesia ke dalam nafsu serakah pribadinya
2 Meminta Denny JA agar menghentikan semua gerakan yang berbau uang, karena bagaimanapun juga sastra itu suci dan tak bisa dikotori dengan hanya setumpuk uang
3 Menolak dengan tegas segala bentuk yang dapat merusak sejarah sastra Indonesia serta mendukung pertobatan kawan-kawan penyair yang sudah kadung terjerat project Denny JA
4 Menuntut Denny JA untuk meminta maaf baik secara lisan atau tulisan kepada seluruh rakyat Indonesia dan khususnya sastrawan atas proyek ini.

Demikian deklarasi ini dibuat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari mana pun.
Bandung, 21 Januari 2018
Seluruh Penyair/Sastrawan Jawa Barat

Sebelum pembacaan deklarasi, naskah deklarasi itu diedarkan untuk ditandatangai hadirin yang kebanyakan para pegiat sastra termasuk beberapa wartawan.
Sejumlah sastrawan yang menolak gerakan Denny JA juga membentuk grup WhatsApp untuk mematangkan gerakan penolakan. Sastrawan yang tergabung dalam grup ini selain Matdon antara lain Ahda Imran, Acep Zamzam Noer, Hikmat Gumelar.

Matdon mengungkapkan, inti dari penolakan gerakan Denny JA menyasar pada bagaimana Denny JA telah menggunakan kekuatan modalnya untuk membayar para penulis Rp5 juta untuk menulis puisi esai.

Gerakan Denny JA bekerja diam-diam menyebar para orang mirip calo tenaga kerja ilegal, mengajak orang nulis puisi esai dan langsung teken kontrak 5 juta. Di beberapa provinsi tercatat para penulis yang terlibat dalam gerakan tersebut.
“Jabar tidak ada,” tegas Matdon.

Menurutnya, gerakan Denny JA semata-mata ditujukan demi makin menguatkan dirinya sebagai tokoh paling penting dan berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia.
“Ini jelas gerakan atau manipulasi yang culas. Karena itulah wajar muncul berbagai reaksi,” katanya. "Kami penyair Jawa Barat tidak ingin berenang di air kotor."

Penyair Ahda Imran menjelaskan, menentang puisi esai bukanlah soal bahwa itu akan membuat seseorang jadi makin populer. Tapi hal ini sebagai penentangan atas sebuah gerakan yang masif dan sistematis dengan modal ratusan juta bahkan miliaran yang masuk merusak sastra dan sejarah sastra Indonesia.

"Membiarkan gerakan ini, dengan alasan hanya bikin seseorang tambah populer, sama saja dengan membiarkan kotoran hidung menyebut dirinya penyair dan tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia," tutur Ahda.
Karena itu, sambung dia, tak ada yang terlambat untuk berpikir ulang demi mencegah gerakan yang berbahaya itu.

Sementara di jagat maya, gerakan serupa digalang Perkumpulan Penyair Muda Indonesia lewat petisi online di Change.org. Sejauh ini sudah lebih dari 1.400 penandatangan petisi penolakan program penulisan buku puisi esai nasional Denny JA. (Penulis: Iman Herdiana)
Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment