Semarak Pameran Rem Blong: Tabrak Lari di Thee Huis

Beberapa Karya yang Dipamerkan di Pameran Rem Blong "Tabrak Lari#2"
Sumber Foto: Iman Herdiana
Galeri Thee Huis Taman Budaya Jawa Barat, Dago, Bandung, begitu semarak ketika 75 seniman memamerkan karya seni rupanya dalam pameran bertajuk Rem Blong: Tabrak Lari #2. Mereka merespons perkembangan zaman lewat karya-karya kritis, penyikapan terhadap teknologi informasi, hingga menampilkan dunia anak-anak yang bergelembung dan berwarna.

Tema kritis misalnya mucul lewat karya Felix TS Tarigan yang membuat instalasi berjudul “Candu”. Instalasi ini berbentuk kubus persegi panjang warna putih, di bagian atas terdapat taburan koin beraneka warna seperti permen.

Di antara taburan koin yang terbuat dari resin itu, ada tiga koin besar warna kuning dalam posisi berdiri yang masing-masing bertuliskan “Apa Juga Seni”. Tak ada tanda tanya. Tapi kalimat itu mengandung tanya yang tak mudah dijawab.

Ada lebih dari 10 instalasi yang dipajang di galeri dengan luas 30x26x10 meter dan 13x12 meter itu. Ada instalasi berbau protes berjudul “Parade ‘Jenderal’ Lidah Bertulang” karya Muhammad Fahrizal Rizki. Instalasi ini berbentuk lidah yang memiliki tangan dan kaki. Satu tangannya putus dan tergeletak di lantai. Lidah berwarna silver tersebut menghadapi kendaraan tempur mirip tank tentara.

Beberapa Karya Yang Dipamerkan di Pameran Rem Blong "Tabrak Lari#2"
Sumber Foto: Iman Herdiana
Ada pula instalasi berbentuk pocong karya Thiemann Belt berjudul “Keep Going Project”. Sang seniman seolah menangkap kecenderungan klenik di era modern ini. Dia membikin instalasi dari mukena yang digantung di dinding mirip pocong.

Pocong itu didesain tak menyeramkan, bagian tubuhnya ditempeli tokoh-tokoh kartun, bahkan di wajahnya tertulis: “Aku kutuk rasa takut sialan ini”. Pocong tersebut menyandar di fiberglass yang biasa dipakai atap kamar mandi, berdampingan dengan foto bayi dan orang yang mulutnya dijejali uang.

Selain instalasi, tentu saja pameran tersebut menyajikan lukisan. Banyaknya seniman yang terlibat membuat lukisan yang dipajang sangat beragam, bahkan kompleks. Pengunjung akan dihadapkan pada banyak genre dan perspektif, atau mungkin kebingungan menyambungkan dengan tema besar pameran: “Rem Blong: Tabrak Lari”.

Contohnya, pelukis Agus Setiawan yang menyajikan lukisan 180x140 cm berjudul “Bebas Bermain”, yakni tentang boneka lucu, montok, mata bundar besar dan bibir tersenyum. Boneka warna cokelat ini berdiri di antara gelembung sabun dengan latar biru cerah.

Lukisan “Bebas Bermain” satu dinding dengan lukisan arang 200x200 cm karya Lingga Ami Lisdianto berjudul “Manusia dan Topengnya” yang menampilkan lukisan hitam putih wajah garang manusia dengan mulut terbuka menunjukkan giginya yang besar. Wajah lukisan ini penuh bekas luka, sekilas mirip zombie seperti dalam film I Am Legend.

Para seniman di Rem Blong juga menangkap perkembangan sebuah kota yang padat, bising, dan komersil seperti dilakukan Andrianto Suryagani Efendy lewat tiga lukisan “Urban Interpretation”. Lukisan hasil cetak digital ini menampilkan masalah yang ada di kota besar seperti Bandung, yakni macet, ledakan penduduk, fesyen, dan kacaunya tata ruang.

“Urban Interpretation” didominasi warna kuning dan merah. Sang pelukis seolah ingin menampilkan denyut nadi kehidupan kota yang tak pernah tidur.
Tema teknologi informasi digarap Fika Budaya lewat lukisan“Hail Smartphone”. Lukisan mikron pen di atas kertas ini terdiri dari tiga seri, masing-masing menampilkan objek mirip boneka android yang memegang handphone.
Boneka-boneka tersebut tampak ganjil karena tubuh atas dan bawahnya terpisah. Pelukisnya melukiskan mereka sedang melakukan aktivitas yang biasa dilakukan manusia, mulai bernyanyi atau bermusik, belanja, putus cinta, hingga naik motor. Semua aktivitas itu dilakukan sambil memegang handphone.

Tidak hanya beragam tema yang dieksplorasi para perupa, teknik dan pemilihan media pun amat kaya. Teknik yang mereka pakai dalam membuat karya tak kalah semaraknya, mulai melukis dengan kuas, digital printing, olah digital, patung.
Pada seni lukis, mereka tidak cuma menggunakan cat minyak dan kanvas, melainkan kertas, kain, tinta, spidol, pensil, arang, keramik, pasir, kaca jendela, dinding, tanah liat, logam, resin atau gabungan di antara bahan-bahan tersebut.

Contohnya, Diki Andrianoo yang menggunakan kertas dan tinta untuk lukisannya, dan resin untuk patungnya. Diki memberi judul “Tetes Terakhir untuk Penerusku” pada empat lukisan dan lima patung resinnya. Lukisan hitam putihnya menampilkan objek-objek ganjil seperti tubuh manusia dengan kepala bunga, tubuh tanpa kepala yang saling melukai, kepala yang tenggelam dalam lumpur, lambang mata uang dolar AS.

Sementara lima patung resinnya tak kalah anehnya, tubuh patung berbentuk sosok hewan tapi berkepala pisau hingga pistol. Ada pula patung tubuh manusia tapi memiliki tiga kepala hewan.
Pameran Rem Blong berlangsung sejak 13 hingga 14 Januari 2018. Pameran ini sudah dua kali digelar, yang pertama berlangsung 2017 lalu. Kurator Galeri Thee Huis, Diyanto mengungkapkan, Rem Blong pertama lebih menampilkan karya-karya yang ekspresif yang lahir dari kesadaran komunal dan jejaring komunitasnya.

Suasana Pembukaan Pameran Rem Blong "Tabrak Lari"
Sumber Foto @sarang.penyamun378
“Pemberontakan di Rem Blong yang pertama menampilkan estetika yang "brutal", keluar dari tata krama pameran,” kata Diyanto.
Pada Rem Blong kedua ini, para seniman lebih “tertib”, terencana, dan mereka melakukan seleksi peserta. Dari 100-an peserta, disaring menjadi 75 yang berasal dari Bandung dan luar Bandung.

“Ini progres menarik. Di balik karya mereka, ada spirit kontinuitas,” kata perupa lulusan FSRD ITB itu.
Di luar kekaryaan, sambung dia, spirit tersebut terlihat saat pebukaan pameran di mana hadirin yang hadir membludak. Antusiasme tersebut menunjukkan adanya jejaring kuat antara seniman dan komunitasnya.

“Buat saya itu ada denyut lain di luar konten. Ada yang hangat dan greget. Ada kontinuitas untuk menjaga gagasan,” katanya.
Namun dari sisi tema, tampaknya seniman melakukan interpretasi sebebas-bebasnya. Malah ada seniman yang terkesan tak merespons tema “Rem Blong: Tabrak Lari” meski akhirnya karyanya menjadi bagian dari benang merah pameran.

Soal semangat pemberontakan yang tampak pada Rem Blong pertama, kali ini mereka membedahnya dalam diskusi. Bahwa penilaian tentang pemberontakan seniman tersebut sebenarnya muncul dari luar seniman atau pengunjung.
“Mereka sadar kalau terminologinya pemberontakan akan muncul pihak yang dilawan. Tapi di karya mereka, mereka tidak menegaskan siapa yang mereka lawan,” kata Diyanto. (Penulis: Iman Herdiana)

Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment