Program S3 Ala Seniman Di Rumah Proses Bandung

Dokumentasi Pameran Binal Badung Nu Kontempoler, 2016
Sumber Foto: Rudi ST Darma

Bicara seni di Bandung tak lengkap rasanya jika tidak mengulas Rumah Proses. Studio seni rupa ini berdiri sejak 2001, dan hingga kini tetap eksis. Tak sekadar pameran, Rumah Proses juga rutin menggelar workshop maupun diskusi. 

“Rumah Proses itu semacam komunitas seni yang temporal, seniman datang dan pergi kayak shelter, mereka praktek, pameran, diskusi di sini,” kata Uday, salah seorang pendiri Rumah Proses, kepada Rupa dan Kata, Selasa 9 Januari 2018.

Uday atau Rudi St Darma menjelaskan, pegiat dan pengunjung Rumah Proses berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi, seniman otodidak, hingga kalangan pelajar SMP dan SMA.

Rumah Proses juga memiliki program edukasi S3, kependekan dari Sekolah Seni Sabtu yang pesertanya kalangan umum. Sebagaimana namanya, S3 dibuka setiap Sabtu. Bagi Rumah Proses, akhir pekan cocok untuk belajar seni.

“Workshop S3 ini program yang kita kembangkan sejak 2009,” kata Uday.

Foto: Rudi ST Darma, Rumah Proses Ouner
Sumber Foto: Iman Herdiana
Hadirnya Rumah Proses diharapkan menjadi ruang partisipasi dan apresiasi seni. Sasarannya terutama para pemuda.

Rumah Proses beralamat di ujung Jalan Mutumanikam No 47, Buahbatu, Bandung. Patokannya berdekatan dengan masjid. Ruang seni ini menempati rumah dua lantai seluas 200 meter.

Rumah Proses memiliki 6 galeri di lantai satu dan dua. Uniknya, enam galeri tersebut berada pada ruang yang sama. Nama galeri disesuaikan dengan tema acara.

Misalnya, galeri Hijrah yang merupakan ruang terbuka untuk partisipasi, galeri Bobby yang dikhususkan untuk program S3, galeri Depan untuk seniman teladan atau pelopor atau pioner yang menjadi narasumber Rumah Proses, galeri Dinding Hajar yang khusus untuk mural, galeri Kotak Abu yang khusus untuk acara diakusi atau presentasi, dan Studio yang dipakai ruang bersama dan pribadi.

“Ruang fisiknya ya begini saja. Biar nggak terkesan flat. Pembagian ruang ini menjadi prototipe dalam menyikapi ruang,” jelas Uday.

Kegiatan di Rumah Proses lebih menekankan pada eksplorasi gagasan dan eksperimen seni. Kebanyakan tema seni yang diolah bersifat aplikasi, konsep dan visual.

Program yang dijalankan bukan hanya diinisiasi Rumah Proses, melainkan terbuka bagi pegiat lain yang berinisiatif mengusung program sendiri.

Salah satu program baru Rumah Proses ialah Binal Badung yang digelar setahun sekali. Program ini dimulai 2016 dan melibatkan 140 seniman se-Jawa dan Bali. Februari ini, Binal Bandung akan kembali digelar.

Berbeda dengan galeri umumnya, Rumah Proses tidak melakukan kurasi ketat terhadap karya seni. Siapa pun berhak memanfaatkan ruang yang ada di rumah proses.

“Kita tangkap peluang, tidak ada seleksi, tidak ada kurator,” ujarnya.

Akhir tahun lalu sampai awal Januari 2018, Rumah Proses menggelar pameran Rudy Nurahman dari Universitas Pendidikan Indonesia. Meski pameran ini sudah ditutup, hingga kini karya Rudy masih menempel di dinding pameran Rumah Proses. 

Selain itu, Rumah Proses juga mendatangkan maestro video art Krisna Murti. Seniman alumnus FSRD ITB ini hadir dalam diskusi "Krisna Murti Video Art Talk" untuk membahas perkembangan seni media baru. (Penulis: Iman Herdiana)


Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment