9 Tahun Majelis Sastra Bandung (MSB), Tadinya Cuma SMS Iseng

Foto: Acara Ulang Tahun MSB
Sumber Foto : Iman Herdiana
Sembilan tahun lalu, penyair Matdon sms-an dengan rekan sesama seniman di Bandung. Isi SMS tersebut mengajak membentuk komunitas sastra.

“Waktu itu cuma iseng, tak terasa kini sudah sembilan tahun,” kata Matdon, di sela peringatan ulang tahun MSB yang ke-9 di Studio Jeihan, Bandung, Minggu 21 Januari 2018.

Dari SMS iseng itu, sejumlah sastrawan berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat, yakni Deddy Koral, Aendra Medita, Hermana HMT, Hanief, Ayi Kurnia, Yusef Muldiyana, dan Matdon sendiri.

Mereka kemudian menjadi pendiri Majelis Sastra Bandung (MSB). Acara pertama majelis ini berupa diskusi sastra dengan narasumber Hawe Setiawan dan Soni Farid Maulana.

Dalam perjalanannya, MSB mengandalkan semangat patungan atau sumbangan sukarela anggota dan pecinta sastra. MSB mengajak pemuda dan pemudi untuk bergerak di bidang sastra.

Foto: Acara Ulang Tahun  MSB
Sumber Foto: Iman Herdiana
“MSB tak bermodal. Pas acara tiba-tiba ada yang bawa kerupuk jengkol, cilok, dan lain-lain. Banyak yang nyumbang, termasuk kaos. Terima kasih kawan-kawan yang sudah mendukung,” kata Matdon, dalam sambutan peringatan ulang tahun yang bersahaja itu.

Peringatan ulang tahun digelar di lantai dua Studio Jeihan. Karpet dihamparkan untuk menampung sekitar 75 hadirin. Acara dibuka dengan pembacaan puisi Deddy Koral, kemudian performance art, sajian musik akustik dari Adew Habtsa dan sambutan.

Menemani acara itu, pengunjung memang disuguhi cilok, kerupuk jengkol, awug, dan pemotongan tumpeng. Matdon kemudian mengumumkan pemenang lomba menulis esai yang digelar menjelang ulang tahun MSB.

Lomba menulis esai diikuti 75 orang, lalu dipilih 22 esai terbaik untuk dibukukan. Dari 22 esai, keluar dua pemenang yang masing-masing berhak mendapat uang Rp2 juta. Dua pemenang tersebut ialah Yana Risdiana (Bandung) dan Eka Budianta (Jakarta).

Di penghujung acara, digelar diskusi yang mengulas pentingnya komunitas sastra dengan narasumber Heri Maja Kelana dan Ahda Imran.

“Saya harap komunitas jadi kawah candradimuka untuk seniman berproses. Tempat sharing, ruang berdebat,” kata Ahda Imran.

Ia tidak setuju jika komunitas diformalkan seperti ormas atau organisasi lainnya. Komunitas sastra atau kesenian sebaiknya bersifat forum bersama untuk mengasah ilmu atau gagasan.

Heri Maja Kelana juga sepakat bahwa komunitas sebagai ruang bersama, termasuk untuk mengasah ketajaman karya.

Cuma Heri menyampaikan kritik bahwa komunitas sastra di Jawa Barat lebih produktif menghasilkan karya puisi. Padahal sastra bukan hanya puisi, melainkan cerpen, esai, novel.

“Komunitas di Jabar kebanyakan menulis puisi. Kalau begitu, mending jadi komunitas penyair,” katanya.

Ia menyarankan kepada MSB untuk menghentikan sementara menulis puisinya, tapi beralih ke cerpen atau novel. Sehingga MSB melahirkan cerpenis dan novelis baru di Bandung. (Penulis:: Iman Herdiana)



Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment