6 Seniman Dalam "Kota Nir Nampak"

dylan muhamadi christiawan
Foto: Artefak Performance Art Dylan Muhammadi Christiawan

Dylan Muhammadi Christiawan, mahasiswa ISBI Bandung ini dalam Kota Nir Nampak menggunakan media senjata dan dua buah jam dinding di sebuah ruangan berkaca. Para penonton yang berada di luar ruangan tidak sekedar melihat aksi menembak jam dinding, namun suara tembakan yang terus menerus terasa seperti berada dalam situasi teror dan kekacauan. Performance art dengan konsep long duration ini membuka/ membolehkan siapapun para penonton untuk menembak.

Foto: Irvan Mulyadie
Irvan Mulyadie, seniman asal Tasikmalaya meminta para penonton menuliskan nama dan harapannya untuk kota. Kertas-kertas tersebut kemudian ditumpuk bersama-sama menjadi sebuah piramida. Kemudian semua penonton mengelilingi kertas dengan gerak yang lambat. Di menit-menit terakhir, ia membakar kertas-kertas tersebut lalu abunya diusapkan ke seluruh wajah dan tubuhnya. Irvan yang aktif pula di sanggar Tasik dan menulis cerpen, naskah drama dan esai ini mencoba mengorek alasan paling mendasar, mengapa sebuah peradaban yang makro di suatu negara bisa terditeksi dengan melihat kebijakan-kebijakan politis secara makro melalui wujud sebuah kota.

Foto: Rudi ST Darma
Lalu ada Rudi ST Darma,  seniman yang namanya sudah tidak asing di jejaring seni khususnya di  Bandung menggunakan media kertas yang ia bentuk menjadi sebuah kotak. Lalu ia hancurkan, berkali-kali ia lakukan itu. Kemudian satu kotak ia simpan ditengah ruangan, benang diulur membentuk lingkaran yang tidak terputus. Kemudian ia keluar ruangan menuju jalan raya sambil mengulur benang menjadikannya semacam jejak. Menurutnya ciri-ciri blegug kota adalah yang besar diangkat sedangkan yang kecil dilupakan.
Foto: Harry Santoso
Harry Santoso, dalam pertunjukan Kota Nir Nampak ia membalut tangannya menggunakan solatip. Ia lilitkan terus menerus hingga membentuk tanganya, setelah cetakan dibuka ia memoles tangannya dengan cat warna hitam. Kemudian hasil cetakan  ia lilit dengan benang berwarna putih, sambil diiringi lagu "Ibu Pertiwi" yang dinyanyikan oleh semua audience yang hadir. Harry, seniman yang juga berprofesi sebagai guru dan pernah mengikuti berbagai pameran seni rupa ini seperti hendak menyampaikan kondisi kota yang mengalami transformasi, begitu kompleks dan semramut. kita lupa bahwa merawat kota sama halnya dengan merawat kasih sayang, seperti kasih sayang seorang ibu.

Foto: Besti Rahulasmoro
Besti Rahulasmoro, pertunjukannya diawali dengan membagikan potongan benang hasil dari tangan-tangan wanita yang pernah merajut malam. Kemudian sisanya ditempelkan di dinding bersama dua buah boneka. Ia menghadirkan bayangan dari gestur yang ia buat. Besti yang juga seniman perupa , aktif juga bergerak dalam beberapa kegiatan, khususnya untuk wanita dan anak-anak. Salah satunya adalah memberikan workshop merajut. Dalam performancenya ia memberikan satu irisan permasalahan kota dimana manusia kehilangan rasa sensitif terhadap kenyataan yang sebenarnya. Menurutnya, jika kota diibaratkan sebuah kotak yang menampung mimpi dan harapan maka adakah tempat bagi kami untuk menyimpan hati?

Foto: Mimi Fadmi
Penampilan terakhir dari Mimi Fadmi, seniman yang sudah malang melintang di dunia performance art baik nasional dan internasional dalam Kota Nir Nampak menggunakan media pohon bayam yang ia jejerkan kemudian ditutup menggunakan genteng. Beberapa diantaranya ia tumpuk lalu diinjak hingga pecah, sambil membawa senjata. Menurutnya kota itu ada, ada gemerlap cahaya, ada kemewahan yang dibangun, tapi semua itu tidak nampak, jauh, tidak terjangkau. Lalu sebenarnya untuk siapa? Dalam narasinya, mimi menceritakan bagaimana saat ia sedang berpikir keras untuk merasionalisasikan masa depan kota Bandung, suatu malam ia bermimpi ditawari kursus membuat senjata.

***
Kota Nir Nampak memang bukan untuk mengungkapkan kota seutuhnya, namun menjadi sebuah upaya mengungkapkan kontradiksi permasalahan kota, pengalaman empiris dari sudut pandang masing-masing seniman yang dihadirkan melalui karyanya. Dengan harapan bisa menjadi daya kritis, menjadi bagian dari degup jantung kota dan menjadi gerak seni itu sendiri.




Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment