Pameran Seni Rupa, Sastra, Musik Hingga Performance Art Dalam "Aksi Kucing”



Jika Anda datang ke Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan pada tanggal 10 – 17 Desember 2016 lalu, Anda akan memasuki sebuah ruang basement atau lahan parkir gedung kesenian itu sendiri. Ruangan dengan tinggi sekitar kurang dari 3 meter tersebut, disulap menjadi ruang pameran yang cukup representatif, sesuai dengan jenis-jenis kesenian yang akan ditampilkan. Tidak hanya pameran, namun ada diskusi, performance art dan pertunjukan musik.

Pembukaan Pameran Aksi Kucing Dalam Tafsir Rupa dan Kata

Acara yang diselenggarakan dengan spirit gotong royong dan kesadaran untuk membangun ruang apresiasi memang layak untuk diapresiasi Di ruangan itu, tepatnya pada tanggal 10 Desember 2016 lalu digelar pembukaan acara TUDGAM Vol II, Festival Tulisan dan Gambar. 

Tudgam Vol II ini menawarkan tajuk “Aksi Kucing” sebuah tema yang berangkat dari judul lagu. Hal tersebut terasa ketika memasuki ruang basement, pengunjung bisa melihat karya-karya yang didominasi objek kucing. Begitupun teks di atap langit isinya tentang kucing. 

Dalam pengantarnya Jajang Supriadi, kurator dari Bandung menuliskan bahwa terdapat suasana yang dapat diserap dan mengundang imajinasi siapapun untuk melakukan kerja kreatif berdasarkan bayangan ruang personal penggiat seni atau sastra dalam masing-masing ruang-lingkupnya. Berangkat dari menikmati lagu “Aksi Kucing” bukan tidak mungkin menyiratkan suatu fragmen cerita dan peluang tautan yang menggambarkan kenyataan zamannya; tentang Indonesia saat itu dan saat ini".

Sedangkan dalam penjelasannya Agung M. Abul sebagai peyelenggara acara menjelaskan kaitannya dengan kondisi Indonesia hari ini dan kondisi kesenian yang carut marut dan banyak orang yang beraksi dibelakang namun kenyataannya saat berhadapan berbeda. Hal itu berhubungan juga dengan susahnya perijinan mendapatkan ruangan. Walaupun pada akhirnya ruangan bisa digunakan dengan gratis, itupun harus dilalui dengan usaha yang tidak mudah.

Sudah bukan rahasia lagi, problem serius seni rupa di Indonesia adalah kurangnya fasilitas ruang pameran oleh pemerintah Tidak dipungkiri perkembangan seni di beberapa kota khususnya di Jawa Barat banyak tergantung pada inisiatif swasta atau ruang-ruang alternatif yang dikelola oleh seniman ataupun komunitas seni.

Hal tersebut di pertegas pula oleh Bapak Pandu, seniman  asal kuningan saat membuka pameran, menurutnya “pemerintah kurang tertarik dengan acara-acara kebudayaan semacam ini. pemerintah hanya mengerti  dengan kesenian bila disitu ada proyek-proyek".

Acara pembukaan yang dihadiri banyak oleh para mahasiswa, seniman Cirebon, Kuningan, Purwakarta dibuka pula dengan aksi performance art seniman dari Bandung, : Mimi fadmi, Komet dan saya (penulis-red). Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi. Kurang lebih satu jam setengah diskusi berjalan. Berbagai pertanyaan seputar seni rupa khususnya di kuningan menjadi tema yang paling banyak diangkat, seperti: perkembangan seni rupa, peranan dan hubungan pemerintah dengan seni, khususnya seni rupa, sampai ke wilayah pengetahuan seni rupa. yaitu bagaimana pengetahuan tidak hanya memusat di kota-kota besar saja, namun menyebar ke daerah-daerah pinggiran.

Info Komunitas: Rumah yang Yahud (RyY)

Penggagas dan peyelenggara acara Festival TUDGAM adalah komunitas Rumah yang Yahud (RyY). RyY sudah berdiri sejak tahun 2009, penggagasnya Agung M.Abul telah membuat berbagai program dengan tujuan untuk mewadahi, memperkenalkan, membuka ruang apresiasi dan memetakan seniman, komunitas seni di indonesia khususnya di kota Kuningan.

Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment