Twivers, Komunitas Kembar Ajang Kreativitas dan Berbagi


Gathering Komunitas Twivers (foto Evi Sri Rezeki)

Raut wajah dua gadis kecil begitu sumringah. Keduanya menggunakan pakaian dengan warna dan model yang sama. “Ibu mana yang lainnya?” tanya gadis satunya tidak sabar. Kebahagian gadis kecil itu bukan karena akan mendapatkan hadiah atau bermain di pusat permainan. Kebahagiaan mereka dikarenakan tidak sabar bertemu dengan pasangan kembar lainnya.

Orang kembar memang selalu menjadi pusat perhatian, bertemu si kembar orang disekitarnya akan mencari persamaan atau perbedaan dikeduanya. Lalu bagaimana perasaan dan pikiran orang kembar ketika melihat kembarannya, dirinya atau kembaran lainnya? Apakah benar orang kembar itu selalu sama dan selalu bersaing?

Pendapat mengenai orang kembar memiliki ciri-ciri fisik, sifat atau kebiasaan yang sama, bisa disebabkan karena faktor yang kuat yaitu faktor lingkungan dan keluarga. Artinya tidak menutup kemungkinan jika orang kembar mendapatkan pendidikan, pola asuh yang berbeda akan menghasilkan kebiasaan yang berbeda pula. Tidak dipungkiri keunikan orang kembar adalah kesamaannya, namun ada beberapa hal yang sebenarnya berbeda. Mereka memiliki kehidupan sendiri dan masa depan sendiri.

Siang itu di warunk Upnormal Jl Cihampelas Bandung (2/8/2015) diselenggarakan acara Gathering Komunitas Kembar Twin Universe” Acara dimulai pada pukul 12.00 WIB s.d pukul 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh pasangan kembar yang datang bukan hanya dari Bandung saja namun ada juga yang dari Jakarta, bekasi dan beberapa orang non kembar yang sudah bergabung dengan komunitas Twivers.

Dalam gathering ini beragam acara digelar, mulai dari game kompak kembar, game untuk anggota non kembar, sajian musik, talkshow dengan tajuk “Anak Kembar dari Segi Komunikasi dan Psikologi” dengan nara sumber Ike Junita (Dosen Komunikasi Unisba) dan Dr Sisca Nurahman. M.Sc (Medical Practitioner).

Diskusi yang berlangsung kurang lebih 40 menit, dibuka dengan pemaparan ibu siska yang focus membahas anak kembar dari sudut pandang psikologis. Menurutnya anak kembar memiliki kerjasama dan persaingan yang tinggi.  Lalu diskusi dilanjutkan paparan dari Ibu Ike Juniata. Bagaimana kedekatan anak kembar dari sudut komunikasi. Ada yang menarik dalam penjelasannya yaitu bagaimana anak kembar memiliki kekuatan bahasa non verbal atau menciptakan kode yang mereka sendiri yang tau dan menyepakatinya.

Sekilas Mengenai Komunitas Twivers

Twivers adalah komunitas yang didirikan oleh Evi Sri Rezeki dan Eva Sri Rahayu yang juga kembar, sejak 3 Desember 2014. Tujuan didirikannya komunitas ini adalah sebagai wadah kreativitas bagi anak-anak kembar dan ajang komunikasi untuk berbagi pengalaman dsb.

Kegiatan Gathering komunitas Twivers ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan di ruang public. Sebelumnya Twivers banyak melakukan kegiatan melalui jejaring sosial. Adapun kegiatan di jejaring sosial yang pernah dilakukan adalah: “Writing Challenge” yaitu program yang temanya berubah-rubah berkaitan dengan anak kembar bisa berupa buku, film sampai kegiatan keseharian. Lalu ada juga “Reading Campaign” yaitu program baca bareng kemudian sharing bersama. “Watching Campaign” adalah  program nonton bersama lalu sharing, dan yang terakhir adalah “Photo Contest” yaitu program kirim foto dan menceritakannya. 

Komunitas Twivers tidak hanya untuk orang kembar saja. Bagi orang tua yang memiliki anak kembar dan bagi siapa saja yang ingin mengetahui tentang kembar bisa masuk dalam komunitas ini” ujar Evi. Nah, bagi yang ingin lebih tahu mengenai orang kembar dan kegiatan komunitas Twievrs bisa mengunjungi situsnya di sini.
Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment