"Sikat, Sikut, Sakit" Pertunjukan Teater Laskar Panggung

Pertunjukan Teater "Sikat, Sikut, Sakit"
Sumber Foto: Besti Rahulasmoro
"Sikat, Sikut, Sakit" sebuah pertunjukan teater yang menjawab kegelisahan dan kejenuhan dunia teater selama ini. Pertunjukan yang meraih hibah seni Kelola-Hivos menawarkan bentuk pertunjukan yang terbilang baru. Berkisah tentang aktivitas sebuah rumah sakit yang menampung berbagai macam penyakit, baik fisik maupun psikis.

Dalam lakon ini, rumah sakit menjadi sebuah representasi dari karut marutnya sebuah negeri. Para pemimpin terkena penyakit rohani dan Hubudunya sebuah penyakit yang cepat menular menginfeksi siapa saja, termasuk rakyat jelata.

Gedung Indonesia Menggugat, tepatnya di Jl Perintis Kemerdekaan No 5 Bandung, selama 2 hari (20-21 Agustus 2010) menjadi tempat digelarnya pentas teater berjudul "Sikat, Sikut, Sakit" karya sekaligus sutradara Yusef Muldiana. Lakon inilah yang diusung Laskar Panggung, salah satu kelompok teater di Bandung yang bisa dibilang paling produktif.

Selama dua malam, Laskar Panggung menghadirkan seluruh peristiwa yang terjadi di rumah sakit pada umumnya. Pertunjukan berlangsung dengan tempo yang cukup cepat dan ketat. Gedung yang nota bene bukan gedung pertunjukan disulap menjadi gedung pertunjukan menyerupai sebuah rumah sakit.

Muhamad Sunjaya dan Sugiyati Suyatna Anirun memainkan lakon dalam "Sikat, Sikut, Sakit"
Sumber Foto: Besti Rahulasmoro
Ruang utama dibuat menyerupai sebuah koridor atau ruang tunggu di mana para penonton duduk di antara sudut kiri, kanan dan tengah. Para pemain bermunculan dari depan, belakang, bahkan di antara para penonton. Situasi yang dibangun oleh penata artistik menjadikan penonton itu sendiri adalah pasien. Menariknya, tidak ada batas antara pemain dan penonton, sehingga tidak jarang dialog-dialog pemain mendapat feed back dari penonton.

Pergantian babak ditandai dengan perpindahan penonton menuju ruang yang lain. Babak kedua, penonton dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok masuk ke sebelah kanan-kiri. Di setiap ruang terdapat kursi penonton menghadap ke deretan ranjang-ranjang layaknya di rumah sakit. Di babak kedua ini, aktor senior Muhamad Sunjaya dan Sugiyati Suyatna Anirun tampil sangat memukau dan membius penonton.

Kehadiran pelukis Tisna Sanjaya dan Isa Perkasa dalam pertunjukan menawarkan bahasa simbolik mengenai lakon yang dikemas dalam bentuk performance art. Setiap adegan membawa kejutan. Bayangkan, dalam waktu bersamaan terjadi pertunjukan di ruangan berbeda.

Pertunjukan "Sikat, Sikut, Sakit" mampu membawa penonton ke dalam suasana yang (mungkin) dikendaki sutradara sekaligus penulis naskah ke dalam suasana kesakitan, kekerasan yang dikemas dalam bentuk komedi. Tertawa itu sehat, bisa jadi pertunjukan ini adalah obat penawar rasa sakit para penonton atassituasi negeri ini. 

(Besti Rahulasmoro, dalam Tabloid Indoart&Lifestyle edisi XXIV)
Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment