Menelusuri Motif KRT Hardjonagoro Go Tik Swan

Seorang Pengunjung Tengah Mengamati Pameran Batik KRT Hardjonagoro Go Tik Swan
Sumber Foto: Besti Rahulasmoro

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar gamelan jawa mengalun merdu di sebuah rumah di kawasan Pondok Hijau Permai Bandung. Sambutan ramah pemilik rumah Drs Nugroho menjadikan suasana menjadi hangat dan akrab.

Pengunjung diperbolehkan melihat koleksi benda-benda seni yang tertata di dalam ruangan, mulai dari lukisan, patung hingga keramik. Namun dari kesemuanya ada yang menarik perhatian, hampir seluruh pengunjung mulai dari orang tua, remaja sampai anak-anak menggunakan pakaian/ selendang batik dengan berbagai macam jenis batik dan model.

Itulah pemandangan yang terlihat pada pembukaan yang terlihat pada pembukaan "Pameran Batik Adiluhung" jumat, 23 Juli 2010 di kediaman Nugroho. Pameran yang hanya berlangsung dua hari (23 - 24 Juli) menampilan 38 buah koleksi batik karya empu batik panembahan Hardjonagoro Go Tik Swan. Setiap pengunjung yang datang ke ruang pamer mendapat penjelasan langsung dari Nugroho mengenai filsafat dan makna di setiap motif batik. Dengan proses komunikasi tersebut tercipta dialog yang mengupas makna karya-karya batik itu sendiri.

Menyebut nama empu batik penembahan Hardjonagoro Go Tik Swan maka tidaklah cukup orang mengingatnya sebatas seorang seniman. Melainkan juga sebagai sosok maestro yang komplit. Dengan totalitas, beliau tidak hanya mendalami budaya Jawa tapi sekaligus menghirup tata nilai dan menjalaninya dalam kehidupan nyata.

Beliau adalah anak sulung dari keluarga Tionghoa di Solo. Sejak kecil beliau sudah akrab dengan lingkungan pembatik dan alat-alatnya. Tarian Jawapun sudah mendarah daging. Ia juga membuat keris, bahkan untuk mendalami  budaya Jawa ia mempelajari sastra Jawa dengan mengambil kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hardjonagoro adalah pelopor batik Indonesia. Sebelumnya pola-pola batik langka yang awalnya tidak dikenal umum dan pola-pola tradisional lainnya dikembangkan olehnya, tanpa menghilangkan ciri dan makna aslinya.

Pengunjung Sedang Mengamati Batik Yang Dipamerkan
Sumber Foto: Besti Rahulasmoro
Dalam menciptakan ragam batik beliau tidak hanya menawarkan segi keindahan, dia menjungjung nilai filsafat, doa dan harapan agar batiknya dapat membawa kebahagiaan dan kebaikan pemakainya. Karya Hardjonagoro relatif terbatas. Hal ini disebabkan produksi untuk menghasilkan batik adiluhung memerlukan proses yang rumit dan memerlukan kesabaran yang tinggi.

Dengan diselenggarakannya pameran adiluhung untuk mengenang dan membaca kembali jejak penciptaan batik Hardjonegoro, dapat terlihat pada periode 1950 hingga 1970-an yang penampilan batiknya sering diperindah dan diperhalus dengan menambahkan detail "banyumili" atau "air mengalir" pada latar berwarna. Ini terlihat dari karya kain panjang nogo bisikan (koleksi griya puisi tanpa kata).

Pada karya kain panjang sawunggaling dan kain panjang candi luhur naga temanen diperhalus lagi dengan detail banyuwangi yang seluruhnya berupa 'cecekan' (koleksi Srihana). Sedangkan pada kain panjang sawunggaling berlatar warna hijau tosca, penamaan sawunggaling tersebut diambil dari nama tokoh heroik dalam cerita rakyat Jawa Barat yang berjuang membela rakyat jelata memerangi penjajahan Belanda, dengan menggambarkan dua ekor ayam jantan. Pola ini adalah pola adhi karya panembahan Hardjonagoro pada era satu kariernya (koleksi Asmorodewi Damais).

Karya Hardjonagoro pada periode 1970 hingga 1990-an, banyak mencurahkan perhatian dan minatnya untuk kelanggengan keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa. Menurutnya keyakinan beliau, asal muasal batik adala dari masyarakat agraris atau pedesaan, yang kemudian dikembangkan dan diperhalus oleh keraton. Pada periode ini beliau menciptakan batik dengan latar yang berwarna, berubah menjadi latar pola geometris klasik dengan warna "soga", sementara "boketan" (motif flora dan fauna), masih terlihat penuh dengan cecekan warna-warni, terlihat pada kain panjang kukilo pekso wani warna hijau dengan latar "parang klitik sogan" (koleksi Griya Tanpa Kata).

Periode 1990-an hingga akhir hayatnya Hardjonagoro menciptakan banyak rancangan dengan  garis-garis miring dan lurus. Pada periode ini cecekan sudah nyaris tak terlihat. Era ini menghasilkan adhi karya berupa pola kembang bangah, seperti pada karya  kain panjang kuntul kebo" dengan latar kembang bangah sogan (koleksi Griya Puisi Tanpa Kata).

(Besti Rahulasmoro, Tabloid IndoArt&Lifestye, Edisi XIX )
Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment